Search This Blog

Wednesday, February 8, 2012

Cegah anak merokok sejak Dini

Rokok, racun mematikan ini kita temui sehari hari, dijalan, di angkutan umum, di mall, toilet, bahkan didalam rumah sendiri. Tentunya kita semua tahu apa saja bahaya dari rokok seperti Kanker, gangguan kehamilan&janin, dsb. Sekarang  pun perokok tidak hanya berasal dari kalangan dewasa namun juga sudah merambah anak sekolah, bahkan anak SD..!! Tentunya kita tidak ingin si buah hati menjadi seperti itu. Berikut saya berikan beberapa tips untuk mencegah anak merokok sejak dini .

  1. Membiasakan anak berolahraga sejak kecil, dengan membiasakan anak berolahraga anak jadi lebih mengerti kesehatan. nya
  2. Menunjukan perbedaan orang yang merokok dan tidak, dengan begitu anak akan memiliki rasa takut pada rokok.
  3. Membimbing anak memiliki hobi yang positif untuk kesehatan, hal ini berkaitan dengan contoh seperti pada nomor 1. Dengan hobi yang lebih positif tentunya akan mendidik anak untuk menjadi lebih Positif dalam berkembang.
  4. Memonitor teman bermain anak, memonitor bukan berarti mengekang dan membatasi, namun kita ada baiknya memberitahu si anak bahwa ada batasan batasan perilaku tertentu yang bisa diikuti si anak dan ada yang tidak.
  5. Dan yang paling penting adalah Tidak merokok di depan anak, karena anak akan cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang orang disekitarnya. Anak juga akan memiliki suatu perasaan malu apabila ia merokok sedangkan orangtuanya tidak,

Sekian 5 tips sederhana dari saya semoga bermanfaat bagi kalian semua. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, didiklah anak anda sebaik mungkin agar nantinya bisa menjadi yang terbaik bagi dunia.

Penelitian Unik Tentang Cinta

Kali ini saya merangkum beberapa fakta penelitian yang menarik sepanjang tahun 2011.. Mengapa 2011? Toh tidak ada salahnya kita melihat sedikit apa yang ada dibelakang agar menjadi bekal kita dimasa depan. Berikut saya sajikan beberapa penelitian yang berguna bagi 

Anda Bisa Mendeteksi Tukang Selingkuh dari Suaranya
Dalam sebuah studi, para peneliti meminta sekitar 120 pria dan wanita untuk menyuarakan huruf vokal dengan nada yang berbeda-besa. Dari hasil penelitian diketahui, wanita cenderung mengasosiasikan suara rendah pria dengan perilaku berselingkuh. Sementara bagi responden pria, wanita bernada tinggilah yang suka selingkuh. Meskipun aneh, hasil penemuan tersebut dianggap masuk akal dalam perspektif biologis. Nada yang lebih rendah, berarti memiliki level testosteron yang tinggi. Dengan level hormon testosteron yang tinggi membuat pria cenderung tidak pilih-pilih dalam menentukan pasangan (baca: mudah jatuh cinta).

Wanita Lebih Mudah Mengingat Sesuatu Jika Dikatakan dengan Suara yang Dalam
Wanita bisa lebih akurat mengingat sebuah objek, jika objek tersebut diperkenalkan oleh pria dengan suara yang dalam. Studi yang dilakukan David Smith dan timnya dari University of Aberdeen, Inggris, menunjukkan bahwa suara pria yang dalam dan rendah lebih maskulin dan penting baik dalam pemilihan pasangan maupun akurasi memori pada wanita

Pria Putuskan Kekasih karena Gemuk
Ternyata sekarang ini cukup banyak pria yang mementingkan penampilan fisik wanita. Hal itu terbukti dari survei terbaru, 48% pria mengaku mencampakkan wanitanya yang gemuk. Survei yang dibuat oleh situs AskMen dan Cosmpolitan tersebut diikuti oleh 70 ribu orang di Amerika Serikat. Dari survei itu terungkap pria benar-benar tidak menerima jika pasangannya mengalami kenaikan berat badan.

Wanita dengan Karir Sukses Lebih Mudah Berselingkuh
Penelitian dilakukan Joris Lammers, profesor dari Tilburg University di Belanda. Dia mempelajari perilaku lebih dari 1.500 pembaca majalah bisnis, mulai dari jabatan paling tinggi sampai rendah. Hasilnya, Joris menemukan bahwa wanita yang menduduki jabatan tinggi di kantornya tertarik pada tantangan dan risiko tinggi. Berselingkuh, jadi salah satu cara untuk memenuhi 'hasrat' tantangan tersebut. Penyebabnya bukan karena rendah-tingginya kematangan moral, tapi kekuasaan dan kesempatan.


Wanita Habiskan Rp 7 Juta Saat Patah Hati
Berdasarkan survei yang dilakukan situs belanja online di Inggris bernama Superdrug, 75% wanita menghabiskan US$ 782 atau sekitar Rp 7 jutaan untuk mengubah penampilannya setelah putus cinta. Penelitian itu mengikutsertakan 2.000 responden wanita. Lebih dari setengah responden mengungkapkan mereka segera pergi ke salon untuk mendapatkan gaya rambut baru, manicure dan pedicure, membeli pakaian dan make-up, bahkan mendaftarkan diri ke pusat kebugaran. Wanita menganggap kekasihnya mencampakkannya karena mereka kurang menarik sehingga berbagai langkah perawatan diri dilakukan.


Pria Dandan Lebih Lama daripada Wanita
Penelitian yang dilakukan Travelodge --perusahaan jaringan hotel raksasa-- menemukan bahwa pria bisa menghabiskan waktu rata-rata 81 menit per hari untuk merawat tubuh, seperti membersihkan, menyegarkan dan melembabkan wajah, bercukur, menata rambut dan memilih pakaian. Sementara wanita hanya memerlukan waktu 75 menit sehari untuk menata rambut, memilih pakaian dan memakai make-up.

Pria Lebih Menyukai Wanita yang Diputuskan Pacarnya
Penemuan dari University of Michigan menyebutkan bahwa pria lebih tertarik mendekati wanita yang dicampakkan kekasihnya. Para ahli berspekulasi, ketika pria yang berinisiatif memutuskan hubungan, hal itu akan menunjukkan dominasinya terhadap lawan jenis. Dengan demikian, pria akan menganggap wanita yang diputuskan akan lebih mudah dikontrol.

Penemuan dari University of Michigan menyebutkan bahwa pria lebih tertarik mendekati wanita yang dicampakkan kekasihnya. Para ahli berspekulasi, ketika pria yang berinisiatif memutuskan hubungan, hal itu akan menunjukkan dominasinya terhadap lawan jenis. Dengan demikian, pria akan menganggap wanita yang diputuskan akan lebih mudah dikontrol.





 
Senyuman Buat Pria Kurang Menarik
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal American Psychological Association mengungkapkan, pria yang murah senyum dianggap tidak menarik bagi wanita. Responden diminta melihat foto lawan jenisnya. Kemudian, peneliti melihat reaksi responden pertama kali melihat foto tersebut.

"Pria yang tersenyum dianggap kurang menarik bagi sebagian wanita," jelas Jessica Tracy, pemimpin penelitian dan psikolog dari University of British Columbia, seperti dilansir iDiva.

Wanita sepertinya lebih menyukai sosok pria yang dingin dan tidak banyak senyum. Seperti Rangga dalam film AADC atau si vampir Edward Cullen dalam film 'Twilight'. Sebuah ekspresi sedikit tertunduk malu tanpa senyuman adalah sebuah sikap yang mengisyaratkkan membutuhkan simpati. Bagi wanita ekspresi itu dapat sangat menarik.

Sunday, February 5, 2012

When I see your smile
Tears run down my face I can’t replace
And now that I’m strong I have figured out
How this world turns cold and it breaks through my soul
And I know I’ll find deep inside me I can be the one

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
It’s okay. It’s okay. It’s okay.

Seasons are changing
And waves are crashing
And stars are falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I’ll be the one
 
I will never let you fall (let you fall)
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all (through it all)
Even if saving you sends me to heaven

Cuz you’re my, you’re my, my, my true love, my whole heart
Please don’t throw that away
Cuz I’m here for you
Please don’t walk away and
Please tell me you’ll stay, stay

Use me as you will
Pull my strings just for a thrill
And I know I’ll be okay
Though my skies are turning gray

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven


Saturday, February 4, 2012

TIPS MENGHADAPI UJIAN part 1

UJIAN, pastinya pemirsa sekalian yang masih menyelesaikan studi (sama seperti saya) pasti menghadapi yang namanya ujian. Ketika ujian, pastinya banyak hal yang dilakukan dalam mempersiapkan diri, Belajar --> Sudah pasti , Istirahat cukup, dsb.

Namun seringkali ada satu hal kecil namun sangat fatal yang sering terlupa oleh mereka yang sedang menghadapi ujian,yaitu
KONSEP DIRI

Apakah yang dimaksud dengan Konsep diri diatas?

Ada sebiah ilustrasi sederhana,
Tono adalah seorang mahasiswa jurusan IT yang sedang menghadapi sidang akhir. Ia dikenal sebagai anak yang pintar di kampusnya. Tugasnya selalu selesai dengan baik dan nilai nilainya pun nyaris sempurna.

Pada saat 1 bulan menjelang sidang akhir, Tono belajar kembali tentang semua yang ia dapat selama 8 semester di kampus. Ia belajar siang malam, tiap hari tanpa kenal lelah. Begitu jam menunjukkan pukul 21.00 , ia menyelesaikan belajarnya dan tidur.

hal tersebut ia lakukan tiap hari menjelang ujian.

Akhirnya pun hari sidang tiba, begitu tono duduk di hadapan 3 dosen pengujinya, tiba tiba ia yang biasanya tenang, berubah menjadi gelagapan. Badannya berkeringat dingin dan tangannya gemetar. Alhasil apa yang terjadi ? Ia pun terpaksa mengulang lagi karena pertanyaan pertanyaan dosennya tidak dijawab dengan baik.


Mengapa hal diatas bisa terjadi? Sedangkan tono bisa dibilang setingkat professor??
Ada satu hal yang terlewat oleh tono, Ia terlalu berfokus pada apa yang harus ia pelajari dan ia lupa untuk meyakinkan diri sendiri...!!!

YA, keyakinan adalah salah satu kunci dari kesuksesan. Pada kasus tono, meskipun ia sangat sangat pintar, cerdas dsb, namun Ia TIDAK YAKIN dan TIDAK MEREFLEKSIKAN dirinya sendiri, sehingga pada hari yang menentukan justru ia gugup, takut , dsb.

"Apakah saya bisa? " , "Apakah saya Mampu ?" , "apakah saya akan berhasil?" ,
pertanyaan seperti diatas pastinya akan sangat dilematis bagi mereka yang akan menghadapi ujian. Lantas bagaimana kita menghadapinya?
KATAKAN YA pada diri sendiri. "YA!!Saya pasti bisa dan akan berhasil" ,

Tekankan hal itu pada diri anda sendiri, karena semuanya dimulai dengan keyakinan. Dengan keyakinan yang kuat , pasti apapun yang kita hadapi dapat kita selesaikan,

NAMUN

Jangan hanya meyakinkan diri sendiri saja, untuk berhasil pasti ada pengorbanan. Jangan lupakan belajar dengan tekun, tidak berlebihan. Ciptakan semangat untuk diri sendiri, agar tidak ada kata bosan dan menyerah, dan yang terakhir, jangan lupa untuk Berdoa, Karna tanpa kita sadari doa dapat menenangkan hati dan ketenangan hati adalah sebuah kekuatan yang sangat besar. Niscaya, semuanya dapat kita lewati dan berbuah manis. GBU

MASALAH UMUM PARA REMAJA DI SEKOLAH

Hidup manusia tidak pernah lepas dari yang bernama permasalahan. Tiap hari kita selalu dihadapkan pada berbagai macam persoalan yang tentunya tidak mungkin kita hindari terus menerus.

Masa masa remaja adalah masa yang paling rentan terhadap sebuah krisis akibat suatu persoalan. Salah satu ciri remaja ialah "Selalu merasa dirinya mempunyai masalah" . Berikut saya jabarkan sedikit tentang masalah umum yang dihadapi remaja,terutama di sekolah.

Perilaku Bermasalah (problem behavior). Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri.

Perilaku menyimpang (behaviour disorder). Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). tidak semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan hal tersebut menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.

Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA)

Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder). Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak.Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.


Attention Deficit Hyperactivity disorder (ADHD), yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.


Dari 5 hal utama diatas, setidaknya bisa ditarik beberapa kesimpulan yang bisa membantu kita semua.

Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama.
Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para remaja. Dalam hati para remaja tersimpan kebutuhan akan nasihat, pengalaman, dan kekuatan atau dorongan dari orang tua. Tetapi sering kerinduan itu menjadi macet bila melihat realitas mereka dalam keluarga, di sekolah ataupun dalam lingkungan masyarakat yang tidak memungkinkan karena antara lain begitu otoriter dan begitu bersikap monologis. lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para remaja, kaum muda dan anak-anak, entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Kedua, menjalin pergaulan yang tulus.
Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan jaman.Seharusnya anak di didik agar dapat mengetahui batasan batasan dalam hidupnya. agar si anak pun akan lebih menyadari keberadaannya sendiri.

Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan cinta sejati.
Ada begitu banyak orangtua yang mengira bahwa mereka telah mencintai anak-anaknya. Sayang sekali bahwa egoisme mereka sendiri menghalang-halangi kemampuan mereka untuk mencintaianak secara sempurna

Yang perlu dipahami bahwa setiap individu memerlukan rasa aman dan merasakan dirinya dicintai. Sejak lahir satu kebutuhan pokok yang yang pertama-tama dirasakan manusia adalah kebutuhan akan “kasih sayang” yang dalam masa perkembangan selanjutnya di usia remaja, kasih sayang, rasa aman, dan perasaan dicintai sangat dibutuhkan oleh para remaja. Dengan usaha-usaha dan perlakuan-perlakuan yang memberikan perhatian, cinta yang tulus, dan sikap mau berdialog, maka para remaja akan mendapatkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya.

Lewat kondisi dan suasana hidup dalam keluarga, lingkungan sekolah, ataupun lingkungan masyarakat seperti di atas itulah para remaja akan merasa terdampingi dan mengalami perkembangan kepribadian yang optimal dan tidak terkungkung dalam perasaan dan tekanan-tekanan batin yang mencekam.

Dengan memahami hal hal diatas, gaya hidup yang mereka(remaja) tampilkan benar-benar merupakan proses untuk menemukan identitas diri mereka sendiri yang sebenarnya.
Salah satu hal yang sangat penting ditekankan bagi remaja adalah MEMAHAMI DIRI. Perlunya refleksi dalam hidup. Hal ini sangatlah penting. "Siapakah SAYA?" "Siapakah KAMU?" "Siapakah DIA?" , pertanyaan pertanyaan tersebut akan kerapkali muncul dalam pikiran remaja karena memang mereka sedang berada pada tahap itu. Dengan pemahaman diri yang baik, proses menemukan identitas dri yang sebenarnya juga akan berlangsung dengan baik.

Friday, February 3, 2012

PERTENTANGAN ANTARA ORANGTUA DAN REMAJA

Dalam zaman elektronik serba cepat ini, anak-anak tumbuh lebih cepat dan ingin bebas lebih awal 
dibandingkan yang dulu dialami oleh orangtua mereka.
Banyak orangtua yang merasa sulit mengikuti perubahan-perubahan kilat yang dialami anak-anak mereka,
dan sebagai akibatnya, terjadilah pertentangan.

Rasanya, tadinya si anak masih dalam pelukan orangtuanya, kemudian mulai sekolah,
mengajak teman-temannya main di rumah, membantu urusan rumah tangga,
masuk Pramuka – pokoknya anak yang manis! Kemudian, tiba-tiba, semuanya berubah!
Dia mulai membantah, melawan dan melanggar peraturan,
kadang-kadang merengut dan tidak komunikatif.
Masa remaja sudah tiba, situasi tak lagi dapat dikendalikan oleh orangtua.

Ada banyak wilayah pertentangan; 
teman-teman mereka (banyak yang tak dapat kita setujui),
cara berhias, kencan, tugas-tugas rumah, uangsaku, penggunaan kendaraan,
sekolah dan pekerjaan rumah, disiplin;
adalah sebagian kecil saja dari tumpukan masalah yang timbul.

Muncullah rintangan komunikasi. Orangtua merasa sulit berbicara dengan anak-anak mereka.
Mereka menunda penjelasan tentang perubahan-perubahan mental dan jasmani yang menentukan,
terutama dalam wilayah seks dan reproduksi. Orangtua memperketat kontrol, remaja
meningkatkan pula perlawanan mereka untuk mendapat kebebasan.
Jurang melebar, mereka bersikap bermusuhan -- mulailah perang.

T:: Bagaimana cara mengatasi pertentangan pertentangan seperti ini??

J::

Orangtua harus membuat peraturan-peraturan rumah tangga yang wajar, beralasan
dan dapat dilaksanakan. Sikap hormat dipelajari anak sementara dia memberi tanggapan
positif terhadap wibawa.Berusahalah bersikap seluas mungkin,
terutama terhadap hal-hal yang menyangkut identitas, kebebasan dan harga diri mereka.
Para remaja membutuhkan banyak dukungan dan dorongan.
Pertentangan tidak pernah dapat diselesaikan dengan argumen atau pertengkaran.

Teladan dan kemantapan orangtua sangat mempengaruhi anak-anak mereka.
Pernikahan yang baik dan bahagia, jauh lebih membantu anak-anak muda
untuk siap menghadapi kehidupan, daripada
peraturan-peraturan dan pengawasan
kasih, kesabaran, pengertian, dukungan dan kepercayaan,
yang diungkapkan secara tetap, akan menjadi dasar kekuatan yang dibutuhkan
para remaja dalam menghadapi tekanan dan masa-masa perubahan.
Kepercayaan orangtua tidak boleh dipisahkan dari pengalaman dan tindakan nyata,
terutama dalam keluarga.


Komunikasi yang erat dengan remaja,
akan banyak membantu kita menghindarkan konflik.
Itu berarti, bukan saja kita perlu bercakap secara bermakna,
tetapi juga meluangkan waktu yang bermutu bersamanya.
Perhatian pribadi ini akan menciptakan citra diri yang positif serta
menggalang persaudaraan dalam keluarga.

Jangan takut mengungkapkan kasih sayang secara fisik.
Pelukan bapak dan ciuman ibu, sangat membantu pembentukan kesan
bahwa anak diterima dan dikasihi.

 

PEMBENTUKAN DIRI REMAJA BERIKUT MASALAHNYA

Untuk memahami judul diatas ada sebuah ilustrasi sederhana,
  "Kalau menanam pohon jeruk, pastilah buahnya jeruk; kalau menanam  pohon mangga,
pastilah buahnya mangga.
" Setiap orangtua yang telah melakukan pekerjaan rumahnya dengan sebaik-baiknya,
pastilah memiliki harapan bahwa si anak yang telah "ditanam" itu akan bertumbuh sesuai
dengan didikan yang telah diberikan. Biasanya si anak akan bertumbuh sesuai
dengan target orangtua ... sampai ia menginjak usia remaja.
Tapi... si anak yang penurut, suka membantu,tidak melawan, periang, dan sebagainya,
tiba-tiba berubah menjadi seorang yang pemurung, cepat tersinggung, masa bodoh,
dan suka melawan.
Dalam keadaan terkejut, kita pun dengan gugup bertanya-tanya,
"Apakah kami telah melakukan kesalahan?
Jika ya, kekeliruan apa yang telah kami lakukan?"

Saya pikir intropeksi memang perlu, sehat, dan alami, asalkan tidak dilakukan dengan
gegabah dan tidak rasional. Melihat perubahan drastis pada anak kita memanglah
mengejutkan serta menakutkan.
Mengejutkan karena pohon mangga yang telah kita tanam,
sekarang berbuah jeruk; sedangkan pohon jeruknya berbuah mangga.
Menakutkan karena kita merasa tak berdaya mengendalikannya.
Sebelumnya segala sesuatu berjalan menurut aturan,
dalam arti perilaku si anak tetap dalam perkiraan kita.
Apabila kita memarahinya, ia menjadi takut
atau menangis.
Jika kita tidak memarahinya, ia pun menunjukkan perasaan yang riang dan
perilaku yang ramah. Tanpa sebab ia mulai memperlihatkan sikap bermusuhan
dengan kita. Kita mencoba
mengajaknya berdialog, yang kita terima darinya hanyalah,
bahu terangkat seraya berkata, "Tidak ada apa-apa."
Adakalanya ia membisu seribu bahasa dan usaha kita mengajaknya bicara terasa sia-sia.



Pada dasarnya,konsep diri remaja terdiri dari empat aspek
ASPEK PERTAMA adalah DIRI SUBJEKTIF,
yaitu pandangan pribadi remaja tentang siapakah dirinya.
Ada remaja yang menilai dirinya tampan,tapi ada pula yang menganggap dirinya
tidak menarik. Ada remaja yang melihat dirinya supel,
namun ada pula yang "kuper" (alias kurang pergaulan).
Konsep diri subjektif bersumber dari penilaian orangtua,
guru,
dan teman yang telah menjadi konsep diri si remaja.



ASPEK KEDUA ialah DIRI OBJEKTIF, yakni pandangan orang lain tentang diri si remaja.
Pandangan orang lain bersifat mandiri dan beragam,
dalam arti
pandangan ini merupakan pandangan pribadi seseorang tentang si remaja dan
pandangan tiap orang tidak harus sama dengan yang lainnya.
Si remaja mungkin berpikir bahwa ia adalah seseorang yang ramah dan ringan tangan
(diri subjektif), namun beberapa temannya menganggap
bahwa ia adalah seseorang yang mau tahu urusan
orang lain (diri objektif).


ASPEK KETIGA ialah DIRI SOSIAL,
yaitu pandangan si remaja akan dirinya berdasarkan pemikirannya
tentang pandangan orang lain terhadap dirinya.
Di sini si remaja melihat dirinya dengan menggunakan kacamata orang lain.
Ia mereka-reka apa penilaian orang lain terhadap dirinya dan
sudah tentu rekaan ini dapat tepat tapi dapat pula keliru.
Ia mungkin menganggap bahwa orang lain melihatnya
sebagai seseorang yang
berani (diri sosial) namun dalam kenyataannya
beberapa temannya memandangnya sebagai seseorang yang kurang ajar(diri objektif).
Ia sendiri mungkin menilai dirinya bukan sebagai

seseorang yang berani melainkan sekadar sebagai pembela keadilan(diri subjektif).



ASPEK KEEMPAT adalah DIRI IDEAL,
yakni sosok dirinya yang paling ia dambakan atau ia cita-citakan.
Diri ideal adalah diri yang belum
terjadi atau terbentuk sehingga
si remaja terus berusaha mencapainya.
Ia mungkin melihat dirinya sebagai seseorang yang tidak stabil (diri subjektif),
oleh karena itu ia senantiasa berupaya menjadi seseorang yang sabar (diri ideal).



Menurut saya, aspek yang paling berpotensi menimbulkan masalah bagi remaja
dari keempat konsep diri ini, adalah diri sosial.
Kita
semua pasti pernah bertanya-tanya, apa penilaian orang lain terhadap diri kita.
Pada diri remaja,pertanyaan semacam ini amatlah penting
karena ia sangat bergantung pada penilaian orang lain, terutama teman-temannya.
Pada remaja, konflik antara diri subjektif dan diri sosial mudah terjadi.



Misalnya, pada awalnya si remaja berpikir bahwa ia adalah seorang yang alim (positif)
karena orangtuanya kerap kali memujinya sebagai seorang anak yang alim.
Ia sendiri menyadari bahwa ia jarang sekali melawan kehendak orangtuanya
dan ia tidak pernah menerima teguran keras dari gurunya.
Ia berkeyakinan bahwa
menjadi anak yang alim adalah suatu hal yang baik.


Masalah mulai timbul tatkala ia memasuki usia remaja,
di mana ia mulai menyadari bahwa anak yang nakal mendapatkan hormat
dari teman-
teman karena dianggap berani.
Sebaliknya, anak yang alim justru terlupakan dan tidak menerima hormat
dari teman-teman karena dianggap pengecut.
Akibatnya, ia pun berpandangan bahwa teman-
temannya justru menganggap
kealiman dia sebagai tanda bahwa ia adalah seseorang yang penakut(negatif).
Dengan kata lain, hal yang
positif di rumah merupakan hal yang negatif di luar rumah.
Di rumah ia dihargai, di luar rumah ia diremehkan.
Sungguh bukan suatu pilihan yang mudah.

Apalagi bila dirumah pun si anak sudah tertekan
secara emosional (apalagi fisik)
oleh para penghuni rumahnya

  Ada satu saran yang dapat saya ajukan (terutama bagi orangtua) yakni,
komunikasikanlah pemahaman kita akan pergumulan yang sedang
ia hadapi dan pilihan-pilihan yang sulit yang harus ia putuskan.
  Tidak ada perasaan yang lebih menyegarkan jiwa dan melegakan kalbu daripada
merasa dimengerti. Perasaan dimengerti membuat remaja melihat dirinya
dengan perspektif yang seimbang: bahwa ia bukanlah seseorang yang aneh.
Katakan kepadanya, bahwa kita memahami kesulitannya mempertahankan kealimannya.
Sampaikan kepadanya, bahwa kita mengerti keinginannya untuk dikenal sebagai
seseorang yang pemberani, bukan pengecut.
Komunikasikan kepadanya, bahwa kita mengerti keinginannya untuk
dihargai sesama teman, bukan diremehkan.

Masa remaja memang masa yang menyenangkan sekaligus
masa yang tersulit dalam hidup seseorang.
Di masa ini seorang anak mulai
mencari jati diri mereka.
Permasalahan yang sering timbul biasanya seputar hubungan mereka dengan orangtua.

Tanya ::Bagaimanakah hubungan antara orangtua dan remaja
yang
kadang bahkan sering menimbulkan masalah-masalah
di antara remaja
?


Jawab::tidak ada jaminan bahwa orangtua yang baik akan menghasilkan
anak yang baik. Maksudnya adalah akan ada kasus di mana anak-anak
akan memilih jalan yang keliru meskipun mereka dibesarkan dalam rumah tangga
yang solid, yang baik, yang mengasihi mereka, yang mendidik mereka dengan sehat.
Contohnya perumpamaan Tuhan Yesus tentang anak yang hilang,
di situ kita melihat bahwa si ayah mempunyai dua anak dan
dia membesarkan anaknya dengan baik tapi si anak bungsu pada waktu sudah
menginjak usia remaja atau dewasa memutuskan untuk keluar dari rumah
dan hidup sesuai dengan keinginannya sendiri dan lepas dari bimbingan orangtuanya.

Jadi tidak tepat kalau kita mempersalahkan orangtua untuk semua masalah
yang dihadapi oleh para remaja. Tetapi saya juga harus menekankan bahwa
anak-anak adalah produk langsung dari orangtua,dan bukan produk langsung
dari pendidikan atau sekolah atau gereja.
Tanggung jawab untuk membesarkan anak diletakkan pada pundak orangtua,
bukan pada para pendidik di sekolah maupun pada rohaniwan di gereja.
Jadi kita juga harus mengakui bahwa kehidupan dan
cara orangtua membesarkan anak benar-benarberdampak besar sekali
pada perkembangan anak remaja kita,
karena orangtua sebetulnya adalah
contoh atau model hidup bagi si anak.
Maksudnya, banyak hal-hal kecil yang tanpa disadari disampaikan kepada anak
melalui gaya hidup atau interaksi
orangtua dan anak.
tidak bisa kita sangkali pula bahwa akhirnya cukup banyak hal-hal
yang tidak sempat kita pikirkan, apakah itu baik atau tidak,
namun sudah telanjur kita serap, kita masukkan menjadi bagian dalam hidup kita.
Nah, itulah yang pada akhirnya
mempengaruhi masa pertumbuhan anak itu.

T : Apa tanggung jawab remaja dalam hal ini? 
J : Kita tidak bisa menimpakan semua kesalahan pada orangtua sebab orangtua adalah manusia biasa yang tidak sempurna. Jadi saya pikir anak remaja perlu menyadari bahwa orangtua sebetulnya tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan untuk membesarkan anak,
gaya mengorangtuai yang paling sehat atau cara berkomunikasi yang paling cocok dengan anak-anak
remaja. Jadi anak remaja saya himbau untuk menerima orangtua sebagai manusia yang tidak sempurna, selain itu anak remaja juga perlu menyadari bahwa orangtua acapkali mengambil tindakan yang tidak disukai oleh anak remaja karena ketakutan orangtua akan terjadi musibah, salah langkah, salah bertindak yang dilakukan oleh anak mereka sehingga berakibat fatal.

Sekian dahulu sedikit sharing dari saya, mudah mudahan bermanfaat.. ingat, kita hidup bersosialisasi dan BERADAPTASI.. Dengan mendengarkan kita akan tahu, dengan melihat kita akan percaya, dengan menjalani kita akan mengerti. Tak ada gading yang tak retak,serumit apapun masalah kita bila dibicarakan pasti akan menemukan titik terang. GBU