Search This Blog

Friday, February 3, 2012

PEMBENTUKAN DIRI REMAJA BERIKUT MASALAHNYA

Untuk memahami judul diatas ada sebuah ilustrasi sederhana,
  "Kalau menanam pohon jeruk, pastilah buahnya jeruk; kalau menanam  pohon mangga,
pastilah buahnya mangga.
" Setiap orangtua yang telah melakukan pekerjaan rumahnya dengan sebaik-baiknya,
pastilah memiliki harapan bahwa si anak yang telah "ditanam" itu akan bertumbuh sesuai
dengan didikan yang telah diberikan. Biasanya si anak akan bertumbuh sesuai
dengan target orangtua ... sampai ia menginjak usia remaja.
Tapi... si anak yang penurut, suka membantu,tidak melawan, periang, dan sebagainya,
tiba-tiba berubah menjadi seorang yang pemurung, cepat tersinggung, masa bodoh,
dan suka melawan.
Dalam keadaan terkejut, kita pun dengan gugup bertanya-tanya,
"Apakah kami telah melakukan kesalahan?
Jika ya, kekeliruan apa yang telah kami lakukan?"

Saya pikir intropeksi memang perlu, sehat, dan alami, asalkan tidak dilakukan dengan
gegabah dan tidak rasional. Melihat perubahan drastis pada anak kita memanglah
mengejutkan serta menakutkan.
Mengejutkan karena pohon mangga yang telah kita tanam,
sekarang berbuah jeruk; sedangkan pohon jeruknya berbuah mangga.
Menakutkan karena kita merasa tak berdaya mengendalikannya.
Sebelumnya segala sesuatu berjalan menurut aturan,
dalam arti perilaku si anak tetap dalam perkiraan kita.
Apabila kita memarahinya, ia menjadi takut
atau menangis.
Jika kita tidak memarahinya, ia pun menunjukkan perasaan yang riang dan
perilaku yang ramah. Tanpa sebab ia mulai memperlihatkan sikap bermusuhan
dengan kita. Kita mencoba
mengajaknya berdialog, yang kita terima darinya hanyalah,
bahu terangkat seraya berkata, "Tidak ada apa-apa."
Adakalanya ia membisu seribu bahasa dan usaha kita mengajaknya bicara terasa sia-sia.



Pada dasarnya,konsep diri remaja terdiri dari empat aspek
ASPEK PERTAMA adalah DIRI SUBJEKTIF,
yaitu pandangan pribadi remaja tentang siapakah dirinya.
Ada remaja yang menilai dirinya tampan,tapi ada pula yang menganggap dirinya
tidak menarik. Ada remaja yang melihat dirinya supel,
namun ada pula yang "kuper" (alias kurang pergaulan).
Konsep diri subjektif bersumber dari penilaian orangtua,
guru,
dan teman yang telah menjadi konsep diri si remaja.



ASPEK KEDUA ialah DIRI OBJEKTIF, yakni pandangan orang lain tentang diri si remaja.
Pandangan orang lain bersifat mandiri dan beragam,
dalam arti
pandangan ini merupakan pandangan pribadi seseorang tentang si remaja dan
pandangan tiap orang tidak harus sama dengan yang lainnya.
Si remaja mungkin berpikir bahwa ia adalah seseorang yang ramah dan ringan tangan
(diri subjektif), namun beberapa temannya menganggap
bahwa ia adalah seseorang yang mau tahu urusan
orang lain (diri objektif).


ASPEK KETIGA ialah DIRI SOSIAL,
yaitu pandangan si remaja akan dirinya berdasarkan pemikirannya
tentang pandangan orang lain terhadap dirinya.
Di sini si remaja melihat dirinya dengan menggunakan kacamata orang lain.
Ia mereka-reka apa penilaian orang lain terhadap dirinya dan
sudah tentu rekaan ini dapat tepat tapi dapat pula keliru.
Ia mungkin menganggap bahwa orang lain melihatnya
sebagai seseorang yang
berani (diri sosial) namun dalam kenyataannya
beberapa temannya memandangnya sebagai seseorang yang kurang ajar(diri objektif).
Ia sendiri mungkin menilai dirinya bukan sebagai

seseorang yang berani melainkan sekadar sebagai pembela keadilan(diri subjektif).



ASPEK KEEMPAT adalah DIRI IDEAL,
yakni sosok dirinya yang paling ia dambakan atau ia cita-citakan.
Diri ideal adalah diri yang belum
terjadi atau terbentuk sehingga
si remaja terus berusaha mencapainya.
Ia mungkin melihat dirinya sebagai seseorang yang tidak stabil (diri subjektif),
oleh karena itu ia senantiasa berupaya menjadi seseorang yang sabar (diri ideal).



Menurut saya, aspek yang paling berpotensi menimbulkan masalah bagi remaja
dari keempat konsep diri ini, adalah diri sosial.
Kita
semua pasti pernah bertanya-tanya, apa penilaian orang lain terhadap diri kita.
Pada diri remaja,pertanyaan semacam ini amatlah penting
karena ia sangat bergantung pada penilaian orang lain, terutama teman-temannya.
Pada remaja, konflik antara diri subjektif dan diri sosial mudah terjadi.



Misalnya, pada awalnya si remaja berpikir bahwa ia adalah seorang yang alim (positif)
karena orangtuanya kerap kali memujinya sebagai seorang anak yang alim.
Ia sendiri menyadari bahwa ia jarang sekali melawan kehendak orangtuanya
dan ia tidak pernah menerima teguran keras dari gurunya.
Ia berkeyakinan bahwa
menjadi anak yang alim adalah suatu hal yang baik.


Masalah mulai timbul tatkala ia memasuki usia remaja,
di mana ia mulai menyadari bahwa anak yang nakal mendapatkan hormat
dari teman-
teman karena dianggap berani.
Sebaliknya, anak yang alim justru terlupakan dan tidak menerima hormat
dari teman-teman karena dianggap pengecut.
Akibatnya, ia pun berpandangan bahwa teman-
temannya justru menganggap
kealiman dia sebagai tanda bahwa ia adalah seseorang yang penakut(negatif).
Dengan kata lain, hal yang
positif di rumah merupakan hal yang negatif di luar rumah.
Di rumah ia dihargai, di luar rumah ia diremehkan.
Sungguh bukan suatu pilihan yang mudah.

Apalagi bila dirumah pun si anak sudah tertekan
secara emosional (apalagi fisik)
oleh para penghuni rumahnya

  Ada satu saran yang dapat saya ajukan (terutama bagi orangtua) yakni,
komunikasikanlah pemahaman kita akan pergumulan yang sedang
ia hadapi dan pilihan-pilihan yang sulit yang harus ia putuskan.
  Tidak ada perasaan yang lebih menyegarkan jiwa dan melegakan kalbu daripada
merasa dimengerti. Perasaan dimengerti membuat remaja melihat dirinya
dengan perspektif yang seimbang: bahwa ia bukanlah seseorang yang aneh.
Katakan kepadanya, bahwa kita memahami kesulitannya mempertahankan kealimannya.
Sampaikan kepadanya, bahwa kita mengerti keinginannya untuk dikenal sebagai
seseorang yang pemberani, bukan pengecut.
Komunikasikan kepadanya, bahwa kita mengerti keinginannya untuk
dihargai sesama teman, bukan diremehkan.

Masa remaja memang masa yang menyenangkan sekaligus
masa yang tersulit dalam hidup seseorang.
Di masa ini seorang anak mulai
mencari jati diri mereka.
Permasalahan yang sering timbul biasanya seputar hubungan mereka dengan orangtua.

Tanya ::Bagaimanakah hubungan antara orangtua dan remaja
yang
kadang bahkan sering menimbulkan masalah-masalah
di antara remaja
?


Jawab::tidak ada jaminan bahwa orangtua yang baik akan menghasilkan
anak yang baik. Maksudnya adalah akan ada kasus di mana anak-anak
akan memilih jalan yang keliru meskipun mereka dibesarkan dalam rumah tangga
yang solid, yang baik, yang mengasihi mereka, yang mendidik mereka dengan sehat.
Contohnya perumpamaan Tuhan Yesus tentang anak yang hilang,
di situ kita melihat bahwa si ayah mempunyai dua anak dan
dia membesarkan anaknya dengan baik tapi si anak bungsu pada waktu sudah
menginjak usia remaja atau dewasa memutuskan untuk keluar dari rumah
dan hidup sesuai dengan keinginannya sendiri dan lepas dari bimbingan orangtuanya.

Jadi tidak tepat kalau kita mempersalahkan orangtua untuk semua masalah
yang dihadapi oleh para remaja. Tetapi saya juga harus menekankan bahwa
anak-anak adalah produk langsung dari orangtua,dan bukan produk langsung
dari pendidikan atau sekolah atau gereja.
Tanggung jawab untuk membesarkan anak diletakkan pada pundak orangtua,
bukan pada para pendidik di sekolah maupun pada rohaniwan di gereja.
Jadi kita juga harus mengakui bahwa kehidupan dan
cara orangtua membesarkan anak benar-benarberdampak besar sekali
pada perkembangan anak remaja kita,
karena orangtua sebetulnya adalah
contoh atau model hidup bagi si anak.
Maksudnya, banyak hal-hal kecil yang tanpa disadari disampaikan kepada anak
melalui gaya hidup atau interaksi
orangtua dan anak.
tidak bisa kita sangkali pula bahwa akhirnya cukup banyak hal-hal
yang tidak sempat kita pikirkan, apakah itu baik atau tidak,
namun sudah telanjur kita serap, kita masukkan menjadi bagian dalam hidup kita.
Nah, itulah yang pada akhirnya
mempengaruhi masa pertumbuhan anak itu.

T : Apa tanggung jawab remaja dalam hal ini? 
J : Kita tidak bisa menimpakan semua kesalahan pada orangtua sebab orangtua adalah manusia biasa yang tidak sempurna. Jadi saya pikir anak remaja perlu menyadari bahwa orangtua sebetulnya tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan untuk membesarkan anak,
gaya mengorangtuai yang paling sehat atau cara berkomunikasi yang paling cocok dengan anak-anak
remaja. Jadi anak remaja saya himbau untuk menerima orangtua sebagai manusia yang tidak sempurna, selain itu anak remaja juga perlu menyadari bahwa orangtua acapkali mengambil tindakan yang tidak disukai oleh anak remaja karena ketakutan orangtua akan terjadi musibah, salah langkah, salah bertindak yang dilakukan oleh anak mereka sehingga berakibat fatal.

Sekian dahulu sedikit sharing dari saya, mudah mudahan bermanfaat.. ingat, kita hidup bersosialisasi dan BERADAPTASI.. Dengan mendengarkan kita akan tahu, dengan melihat kita akan percaya, dengan menjalani kita akan mengerti. Tak ada gading yang tak retak,serumit apapun masalah kita bila dibicarakan pasti akan menemukan titik terang. GBU

No comments:

Post a Comment